Jumat, 02 November 2012

PT. CELEBES MINAPRATAMA, NEW OWNER AND NEW MANAGEMENT (Bag. 1)

PT. Celebes MP, Ikan Kayu & Dinamikanya


Kalo nt pernah ke Bitung dan pengen nyari tahu soal pabrik ikan, hampir bisa di pastiin orang Bitung bakal nunjuk pabrik ikan kaleng yang namanya PT. Sinar Pure Foods International.  Yah, emang musti diakuin kalo itulah salah satu pabrik ikan paling kesohor di Bitung.  Tapi asal tau aja, kalo di Bitung sebenarnya ada sekitar 50 lebih pabrik ikan.  Mulai dari pabrik penangkapan, pengalengan, pembekuan, loin tuna, sashimi, hingga ikan kayu. 

Tapi kalo nt tanya soal katsuobushi di Indonesia ke pebisnis ikan di Jepang, mungkin ngga berlebihan kalo gue pastiin doski bakal nyebut nama PT. Celebes Minapratama, sebagai salah satu yang terbesar.  Bukan cuma dari sisi quantity, tapi juga quality.


Bukan apa-apa sich, cuma lantaran ikan kayu di Indonesia jumlahnya sedikit, dan  yang terbanyak ada di Sulawesi Utara.  Sebut aja PT. Celebes Minapratama (Bitung), PT. Manadomina Citra Taruna (Bitung), PT. Sari Cakalang (Bitung), PT. Nichindo Suisan (Amurang), and PT. Etmico (Bitung).

Dari ke-5 pabrik tersebut, yang masuk kategori ‘tua’ adalah PT. Sari Cakalang, PT. Manadomina Citra Taruna and PT. Nichindo Suisan, yg merupakan kelanjutan dari PT. Saruntawaya.

Untuk ukuran pabrik ikan kayu, PT. Celebes Minapratama bisa dibilang yang paling ‘rapih’ dari segi penataan ruang di banding 5 lain-nya.  Eh, itu bukan kata gue loh, tapi kata salah satu inspektor propinsi yang pernah  inspeksi beberapa saat setelah perusahaan ini memperoleh piagam Primaniyarta dari Presiden R.I.
 
Sebenarnya sich bukan hal aneh,  karena pendirian PT. Celebes Minapratama merupakan ‘perbaikan’ dari banyak kekurangan pabrik ikan kayu yang sudah ada.  Sedangkan PT. Nichindo Suisan dan PT. Etmico menduplikasi penataan PT. Celebes Minapratama.

PT. Celebes Minapratama mengalami perjalanan yang unik selama 11 tahun.  Dari status kepemilikan PMN, lalu berubah menjadi 20% PMN, 80% PMA (Jepang).  Namun hanya dalam 3 tahun, statusnya kembali beralih jadi 100% PMN, dg Mr. Albert Ody Worang sbg pemilik.



Ikan Kayu dan problematikanya

Walau pabrik ikan kayu telah eksis cukup lama di Bitung, tapi  masih banyak orang Bitung yang tidak tahu apa itu ikan kayu.  Apalagi orang yang jauh.  Malah pernah salah satu pengunjung dari daerah di luar Sulawesi Utara yang menyangka kalau ikan kayu adalah ukiran kayu berbentuk macam-macam jenis ikan.  Dan yang bersangkutan lebih kaget lagi setelah melihat aktifitas produksi yang ternyata menggunakan begitu banyak ‘ikan asli’

Memang orang Indonesia pada umumnya tidak familiar dengan ikan kayu.  Selain susah cara makannya, lidah kebanyakan orang Indonesia masih lebih nyaman makan ikan bakar, pepes, goreng, pindang, ikan rebus, ikan asin, atau ikan kaleng.  Tapi tidak dengan ikan kayu yang kalo mau makan harus di serut/skaf terlebih dulu.

Walau ikan kayu juga sudah diproduksi sejak lama oleh sebagian masyarakat Aceh dg nama Keumamah, tapi sebenarnya ikan kayu merupakan produk andalan orang Jepang.  Konon, ikan kayu sudah diproduksi sejak beberapa abad lalu oleh bangsa jepang.  Bahkan tentara Jepang yang berperang pada PD 1, sudah biasa membawa ikan kayu, selain peluru dan granat di ranselnya.  Hal tersebut di mungkinkan karena ikan kayu memiliki masa simpan yang cukup lama untuk produk berprotein tinggi, yakni hingga 2 tahun pada suhu kurang dari 5 C.


Karena pada penyimpanan suhu kamar, ikan kayu mudah mengalami penurunan mutu karena tumbuhnya jamur di bagian permukaan. 

Orang Jepang sangat menyukai ikan kayu.  Sama dengan sebagian besar orang Indonesia yang begitu menyukai tempe dan tahu.  Orang Jepang percaya bahwa selain enak dan menyehatkan, ikan kayu juga berpengaruh positif pada kecantikan kulit.

Berdasarkan laporan, penduduk Okinawa adalah masyarakat yang konsumsi ikan kayunya tertinggi di seluruh Jepang.  Dan menurut mereka, itu juga yang menyebabkan penduduk Okinawa lebih banyak yang berumur panjang ketimbang penduduk lainnya di seantero Jepang.

Ironisnya, walau mereka begitu antusias pada produk ikan kayu ini, orang Jepang diperhadapkan pada masalah ketersediaan bahan baku ikan dan menurunnya animo kaum muda Jepang untuk berkotor-kotor memproduksi ikan kayu.

Kondisi minimnya tenaga kerja muda Jepang di bidang pengolahan tradisional bisa dimaklumi, karena hampir setengah keluarga Jepang hanya memiliki 1 orang anak.  Karena itulah jepang kini mengalami kesulitan tenaga kerja, hingga harus mendatangkan tenaga kerja dari China, hingga Brazil.

Fenomena tersebut menyebabkan ditutupnya beberapa tempat pengolahan ikan kayu.  Padahal, kebutuhan masyarakat Jepang akan ikan kayu baru 40% yang bisa dipenuhi oleh produsen lokal.  Karena itulah Jepang mulai mengalih tekhnologi-kan ilmu membuat ikan kayunya ke negara-negara sekitar yang punya kelimpahan bahan baku berkualitas.  Indonesia salah satunya.

Ketika pabrik ikan kayu mulai marak meng-eksport, tuntutan jaminan mutu negara importir yang dimotori Masyarakat Eropa mulai ‘membatasi’ jumlah eksport produk perikanan.  Memang ada alasannya sich.  Salah satu  pemicunya adalah keteledoran berulang-ulang eksportir  Bangsa kita yang menyebabkan terkirimnya residu pestisida pada produk yang sedianya bakal di makan para bule Eropa itu.

Malah sempet ada isyu yang berkembang soal teror lewat makanan.  Uh, yang Eropa terlalu berprasangka buruk, yang eksportir Indonesia  seenak perutnya.  Pengen ngeraup keuntungan sesat, mengorbankan eksportir yang memegang etika berbisnis.  Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.  Nila,...nila,,...kurang ajar banget loe.
(Bersambung ke bagian 02)

baca juga tulisan gue yg lain. Silahkan klik di sini



PT. CELEBES MINAPRATAMA, NEW OWNER AND NEW MANAGEMEN (Bag.2)

 Kan akhirnya berimbas negatif ke geliat eksport ikan kayu.  Mau eksport ke negara yang siap nrima apa adanya, tanpa banyak cingcong dengan syarat ini dan itu, akhirnya musti ikut aturan pemerintah yang mukul sama rata, tanpa pandang bulu.  Dokumen Jaminan Mutu, yang kita sebut HACCP, yang alih-alih dilakonin di negara induk sekaligus importir terbesar ikan kayu, yakni Jepang.

 ==========================

 “Pokoknya, loe musti nulis yang loe kerjain, dan ngerjain yang loe tulis.  Loe musti ngelakuin apa yg namanya GMP, SSOP dan bla...bla...yang lain.  Bangunan harus ngga punya celah.  Harus meniadakan semua kemungkinan kontaminasi bakteri.  Mau ke wc ganti alas kaki.  Mau megang ini itu harus celup larutan klorin.  Alat yang bakal di pake harus di cuci pake larutan klorin 100 ppm.  Pokoknya harus amat sangat bersih.  Liat tuh pabrik ikan kaleng...”  cerocos inspector mutu berstandar internasional utusan Jakarta.


“Tapi bu, produk ikan kayu ini hasil akhirnya justru cuma bahan baku yang bakal di olah lanjut di negaranya buyer.  Kan pengolahan lanjutannya bakal ada step yang menghanyutkan semua mahluk yang namanya bakteri dan bla...bla....”  Wakil pengusaha mencoba mengemukakan fakta.

“Terserah.  Loe lakonin gue keluarin sertifikat.  Loe ngga lakuin, silahkan aja proses jutaan metrik ton, abis itu balikin aja lagi ke laut, lantaran ngga bakalan bisa loe eksport”  ibu inspector berkeras.  Integritasnya merasa di tantang.

“Bu, kita untungnya cuma sedikit.  Kalo musti renovasi gedung dan banyak peralatan, berapa ratus juta kita harus keluarin.  Bisa bangkrut pabrik kita.  Apa ngga kasihan sama ratusan karyawan and keluarganya..?”  Wakil Pengusaha setengah memelas, membayangkan ratusan, bahkan milyaran fulus musti keluar untuk renovasi beberapa bagian penting gedung dan peralatan.

“Saya hanya menjalankan tugas pak..”  Inspector mengemukakan pembelaan akhirnya.

Wakil pengusaha membayangkan kunjungannya ke pabrik-pabrik ikan kayu di Jepang beberapa waktu lalu.  Ia kaget setengah mati waktu memasuki salah satu pabrik ikan kayu di sana.  Bayangannya tentang pabrik seelit pabrik ikan kaleng di Bitung langsung sirna melihat betapa kotor dan joroknya pabrik tersebut.  Malah, di salah satu pabriknya, ia hampir menginjak onggokan kotoran anjing beberapa meter di pintu masuk.

Sangat kontras dengan kondisi pabrik ikan kayu di Bitung.  Dengan kata lain, yang paling jorok di Bitung adalah yang paling bersih di Jepang.


=======================================

“Konichiwa, mana ikan kayu loe, koq lama banget sih di kirim.  Stok kita udah hampir abis nih.  Ato loe mau minta naek harga, ya kasih penawaranlah.  Email atau fax....”  suara Kawaguchi San menyiratkan kegusaran di line phone

“Bukan harga masalahnya Kawaguchi San, tapi deregulasi pemerintah Indonesia yang bikin produk kami tertahan.  Udah siap koq di cold storage.  Ada 4 kontainer 40 feet tuh...” Pengusaha menyiratkan kegalauan kronis

“Yaelah,..loe bilang dong sama pemerintah loe.  Mutu kan ditentukan pembeli.  Kan gue ngga ngajuin syarat yang ribet.  Pokoknya kadar air 22%, bahan baku bukan ikan busuk, kirim.  Jelasin dong kalo ikan kayu yang loe proses bakal gue olah lanjut di sini.  Emangnya orang Jepang tikus apa, sampe mau makan ikan kayu yang keras gitu.  Mau dapet devisa kaga pemerintah loe...?”  Nada suara Kawaguchi San terdengar kesal.

“Kami udah jelasin ke mereka, tapi mereka tetap berkeras.  Aturannya begitu katanya”  Sang pengusaha mencoba ngejelasin.

“Lucu pemerintah loe.  Ikan kayu kan yang ngajarin kita, orang Jepang, dengan harapan negara loe kirim sebanyak-banyaknya ke mari, lantaran kita kesulitan bahan baku.  Sampe di sini, yang bakal makan kita juga, koq malah mereka yang mbikin aturan seolah-olah mereka lebih jago dari kita soal ikan kayu. 

Ibarat lampu merah, semua sopir tahu kalo warna merah harus berhenti, warna ijo jalan.  Tapi kan kita semua tahu aturan traffic light sama sekali ngga berlaku buat ambulance yang ada penumpangnya.  Padahal semua tahu kalo ambulance juga kendaraan.

Coba loe inget-inget, berapa sering sich gue komplain soal produk yang loe kirim sebelom pemerintah loe ngeluarin kebijakan yang mukul rata ke semua produk perikanan ?  ikan kaleng sama ikan kayu tuh bedanya kayaq bumi ama langit.  Kaga bisa di samain.  Jangan dikira gue kaga ngerti soal ikan kaleng.  Ikan kayu loe bisa bikin di rumah sama anak ama istri loe.  Yang penting punya tempat ngerebus sama mengasap.  Ngga perlu listrik.  Tapi ikan kaleng laen coy.  Terlalu komplex.  Yah, payah,..kalo gini gue bakal beli di Thailand, Vietnam sama Philipina aja lah...ok deh, gue kasih kesempatan loe 1 bulan buat urus sama pemerintah loe yang sok jago itu....sayonara”

Anda tertarik membeli produk ikan kayu...?

Silahkan contact:

Phone:

Head Office : (+62438) 32993 


Email: